Menggoreskan Pena Mencerahkan Dunia

Banyak yg telah tertoreh pd lembar putih karya anak manusia nmn tak kuasa mmberi setitik terang pa temaram dunia yang kian menggelap, krn dimensi ragawi mnguasai kata.Ku coba goreskan pena yg mungkin tak setajam pena yg mereka punya dgn harapan dunia dapatkan terangnya,krn menulis bagiku adlh ibadah hinggga setiap kata adlh tasbih pada-Nya. Allah....ku coba goreskan pena tuk cerahkan dunia...

Friday, February 17, 2006

Sensitifitas (Essay)

"Kasihan suami yang hidung isterinya tak cukup tajam mencium bau badan suami atau pakaian yang tak sempurna dicuci sehingga mengirim bau yang mengganggu jama'ah sholat atau mitra bicara. Kasihan isteri yang tak memahami mengapa ia dikucilkan teman-teman, karena suami tak tega atau tak punya hidung yang cukup hassas (sensitif) untuk mengidentifikasikan bau apa yang ada di pakaian atau di badan isterinya." (Ust. Rahmat Abdullah)
Begitulah cara Ust. Rahmat Abdullah mengasihani pasangan suami isteri yang sifat hassas-nya tak lagi dapat mengontrol kondisi pasangannya. Sehingga banyak hal yang tak diinginkan terjadi.
Maka (karena saya belum menikahJ) izinkanlah saya untuk mengasihani seorang Ikhwan yang karena sifat hassas-nya tak dapat lagi mengontrol apa yang keluar dari lisannya, sehingga dengan tanpa beban menyapa seorang Akhwat yang telah lama tak ia jumpai dengan ucapan yang sungguh kadang-kadang dianggap tak bermasalah: "Assalamualaikum.., apa kabar Ukhti..?, sudah lama nggak ketemu, makin cantik saja Anti…?," (Duh…), siapa yang tahu bila banyak bunga mawar yang mulai bermekaran di hati sang Akhwat, atau hati-nya berubah warna menjadi merah jambu, sedang sang ikhwan masih meneruskan obrolan dengan senyumnya yang khas tanpa beban sedikit pun.
Kemudian izinkanlah pula saya untuk mengasihani seorang Akhwat yang juga karena sifat hassas-nya tak dapat lagi mengontrol ucapan lisannya, dengan tanpa beban mengucapkan: "Assalamualaikum.., apa kabar Akhi..?, sudah lama nggak ketemu, makin kerempeng aja Antum..!!"(Oh..), siapa pula yang tahu bila di kepala sang Ikhwan mulai tumbuh tanduk ke-dongkol-an yang sangat, atau giginya mulai berubah menjadi taring kekesalan, sementara si Akhwat masih meneruskan obrolannya karena tak menyadari kondisi lawan bicara.
Sungguh, Islam agama yang sangat memperhatikan hal-hal seperti ini, hal yang kadang dianggap kecil, mengatur lisan ketika berbicara sangatlah di ajarkan dalam agama hanif ini, memakai bahasa yang benar dalam berbicara juga diajarkan dalam Din al-haq ini, tetapi sungguh jangan pernah memaknai tujuan pengaturan lisan ketika berbicara itu hanya sekedar tujuan zhohir semisal menciptakan kata-kata yang indah, atau menghindari kata-kata jorok saja, karena lebih dari itu ada dimensi lain yang diinginkan, yaitu menumbuhkan sifat hassas pada setiap mukmin, sehingga ia dapat membiasakan sifat hassas-nya dalam segala hal.
Hassasiyah bukan berarti karena ke-sensitifannya seorang mukmin harus cepat tersinggung atau mudah mutung atau mudah berbunga-bunga, sama sekali bukan itu, tetapi yang diinginkan oleh hassasiyah adalah kewaspadaan seorang mukmin dalam menjaga perasaan saudaranya ataupun saudarinya.
Apalah lagi bagi para aktifis dakwah yang seharusnya menjadi contoh bagi setiap mad'u-nya, sudah seharusnya lah sifat hassas-nya harus selalu terjaga dalam interaksi, agar tak ada fitnah, agar tak ada kesalahpahaman, agar tak ada kebencian atau kecintaan yang tak dilandasi dengan cinta atau benci karena-Nya.
Bukan tidak boleh mengajak saudara kita berbuat baik, semisal membangunkan sholat tahajud dengan SMS atau miss call, namun alangkah indahnya bila sasarannya tepat, Ikhwan membangunkan Ikhwan dengan SMS-nya ataupun miss call-nya, sedangkan para Akhwat mendapat bagian membangunkan para Akhwat yang lainnya, sungguh cobalah itu jauh lebih indah daripada SMS atau mis call lintas komunitas itu, tak ada alasan lain yang melandasi pemikiran ini kecuali untuk kembali meningkatkan sifat hassas kita, agar SMS ataupun miss call kita tak berubah warna.
Malang nian nasib seorang Ikhwan tangguh yang perlahan berubah status menjadi Ikhwan tanggung hanya karena sifat hassas-nya mulai menipis, dan itu tanpa ia sadari, karena memang begitulah cara kerja pengikisan sifat hassas itu, perlahan tapi pasti.
Tak kalah malang pula nasib seorang Akhwat militan yang perlahan berubah status menjadi Akhwat meletan karena sifat hassas-nya perlahan menipis dan mungkin akan menghilang.
Sebab itulah waspada terhadap hilangnya sifat hassas pada setiap pribadi harus senantiasa di pupuk karena akhir dari menipisnya sifat hassas itu adalah, masuknya kita pada golongan yang disebut Allah dengan Wahum La yasy'uruun (mati rasa) tak dapat membedakan mana yang tabu dan mana yang tidak, mana yang seharusnya di-verbal-kan dan mana yang tak seharusnya. Semoga kita tidak. Naudzubilah min dzalik

Wallahu A'lam

Teriring Salam Rindu untuk:
Keluarga tercinta di Gandus dan PP. Assalam MUBA

5 Comments:

  • At 6:19 AM, Blogger jauza_fathiyya said…

    Assalamu'alaikum..
    saya pernah membaca tulisan ini di male-nya An Nida..
    Ga nyangka.. kalau anda penulisnya :)
    Salam kenal..

     
  • At 2:50 PM, Blogger Jay Anwar said…

    iya, makasih jauza..atas kunjungannya ke blog ku, gimana pendapatmu tentang tulisan ini?

     
  • At 8:28 AM, Blogger My Blog said…

    Good contemplation.

    Oya, met gabung di IMB

     
  • At 1:05 PM, Blogger Sun Flower Arco said…

    Waalaikumussalam.wr.wb. Jazakallah khairan khatsir Akh Jay atas silaturahim ke blog Sunflower.
    Commentnya : Tawazun akh, terkadang memang ikhwah potensi keimanannya turun -naik, ada pula ikhwan yg menjanjikan seorang akhwat utk menikah,setelah berbulan2 dibuat mengambang..akhirnya si akhwat putus harapan dan beranggapan ikhwan semuanya tak ada yg serius. Naudzubillah,hm..fenomena ini mulai banyak dikalangan akhwat. Sifat hassas ( sensitif) bukan hanya dalam hal menjaga hal2 sepele spt itu...justru menjaga keseriusan kita dalam amanah dakwah. Wanita( akhwat) dititipkan Rasulullah SAW kepada para ikhwan fillah. Wallahu'alam.
    BTW, blognya di kasih SB juga akh.Wassalam

    Vera

     
  • At 2:57 PM, Blogger [solilokui] said…

    Assalamualaikum wr wb
    kunjungan balasan... tausiyah yang bagus sekali berkaitan dengan sensitifitas ini. karena itu lah saya tidak mau berlama-lama di belanda... khawatir kehilangan sensitifitas...
    salam untuk suami dan anak saya belum bisa disampaikan, mengingat mereka belum hadir =)

     

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home