pulang
Menapakkan kembali langkah-langkah ku di sebuah kota kecil kecamatan yang baru dimekarkan dari induknya. Gandus. Sebuah kota kecil atau lebih tepatnya sebuah kampung yang beranjak menjadi kota di pinggiran kota Palembang, menyeruakkan kembali kenangan masa lalu setelah cukup lama tidak menapakkan kaki disini, setelah sekian lama tak kuhirup segarnya udara pagi kota kelahiran ku ini, kini dapat ku ucapkan kembali “Assalamualaikum kota kecilku!” kukira engkau masih tetap akan memancarkan harapan bagi ku, harapan bahwa kelak generasi robbani akan lahir dari rahimmu, meskipun ada sedikit gamang di sudut hati ini, setelah melihat kembali betapa kau mulai berubah.
Sejak lima tahun yang lalu, semenjak air mata Ibu menetes mengantar kepergianku meskipun airmata itu kemudian disekanya karna takut aku pun akan sedih dengan lelehnya air mata itu, semenjak nasehat-nasehat tajam Bapak yang meskipun kaku tetap membasahi hatiku yang kerontang mengiringi kepergianku. Memang begitulah bapak nasehatnya kaku, meskipun aku tahu ia berusaha menyembunyikan getar sayang dihati nya. Ya, mungkin kehidupan yang pernah dilalui bapak terlalu keras untuk sekedar mendidiknya menjadi penyayang yang tidak kaku , namun aku yakin ada kasih yang meluap-luap dari kekakuan itu. Ketika itu Gandus hanyalah sebuah kampung yang masih berbenah diri bagaikan seorang ABG yang baru kenal bedak ataupun lipstik
Menginjakkan kembali kaki ku di kampung yang sudah beranjak menjadi kota ini, menimbulkan harapan sekaligus kecemasan di relung hati ini. Mencari harapan di tengah riuh bocah-bocah yang dengan riang mempelajari kitab Allah di masjid-masjid kota kecil ini seperti dulu adalah sebuah kenangan, karena kini mereka telah pergi, hanya sedikit sekali yang tersisa, hanya sedikit sekali yang tidak beranjak meninggalkan masjid-masjid menuju Play station, Ding dong dll, simbol modernisasi di kota kecil ini. Segores cemas melukai harapku.
Aku merasakan ke anehan pada perkembangan kota kecil ini, ada yang tak seimbang. Kegemaran meniru diiringi tingkat pendidikan yang rendah sehingga filter nyaris tak ada, konsumerisme diiringi tingkat kemiskinan yang meningkat sehingga membuat para bapak kalap dan gelap mata untuk membedakan antara yang halal dan yang haram dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Ah.. kerinduan akan masa lalu semakin menjadi-jadi mendera jiwa ini, kerinduan akan pemuda-pemuda kampung yang santun dan ramah, kerinduan akan kemudahan para bapak dalam mencari nafkah, dengan hanya bermodalkan pengilar-pengilar reot sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Kegamangan ku genap sudah, setelah ku dengar NARKOBA mulai menampakkan taringnya di kota kecil ini, membuat para pemuda semakin terseok-seok menapaki masa depannya. Perjudian….ah… itu memang kebiasaan lama, tapi sekarang makin menjadi, membuat para bapak menjadikannya alternatif pencarian nafkah. Konyol.
****************
“Eh, lis udah denger gosip baru belum?,”
“Belum tuh, emang ada gosip apaan?,”
“Itu lho.. tentang perselingkuhan!,”
“Perselingkuhan….?!,”
“Iya, perselingkuhan,”
“Emang siapa yang selingkuh?,”
“Itu lho.. Mang Kimas dan Yuk Sumi yang tukang jamu itu,”
“Masa’ sih!,”
“E…. nggak percaya, itu sudah menjadi rahasia umum, tau..!,”
Tanpa sengaja terdengar oleh ku obrolan Sisi adikku dan Lisa temannya, dasar perempuan pikirku, walaupun sudah jadi Akhwat kebiasaan ngerumpi masih jalan terus (Afwan Ya para Akhwat…J). Ah… satu lagi topik yang mulai sering menghiasi bibir orang di kota kecil ini. Perselingkuhan. Ya, sudah beberapa hari ini aku mendengar cerita-cerita tentang perselingkuhan itu, bukan, itu bukan sekedar gosip karena kasus itu sudah pernah di bawa kepada yang berwajib dan terbukti. “Perselingkuhan..,” desis ku. Dulu tak pernah terpikir di benak ku bahwa suatu hari perselingkuhan itu akan menjadi kenyataan di kota kecil ini, ya tak pernah terbayangkan bahwa itu akan terjadi di kota sekecil ini. Kupikir hanya di sinetron-sinetron saja perselingkuhan itu berwujud. Tiba-tiba aku tersentak, teringat apa yang pernah ku baca di sebuah Majalah Islam tentang pengaruh sinetron terhadap masyarakat. Benarkah itu dampak dari sinetron yang mereka konsumsi setiap hari. Tanyaku dalam hati. Oh…. Kini lengkap sudah kebobrokan di kampung ini. Ada satu lagi luka menggores harapku.
*******************
Sekali lagi ada ketidak seimbangan pada kehidupan masyarakat di kota kecil ini. Pengangguran yang meningkat diiringi berdirinya perusahaan-perusahaan yang merekrut pekerja dari luar kota ini, sehingga masyarakat kota ini hanya bisa menjadi penonton keberhasilan orang luar di kota mereka. Inilah yang agak merisaukan ku kesenjangan sosial antara pendatang dan masyarakat asli kota kecil ku ini tak dapat di hindari lagi. Masyarakat semakin apriori dengan para pendatang, atau lebih tepatnya semakin ‘buas’ terhadap mereka contohnya kemarin seorang teman yang mendengar kepulangan ku datang silaturohim ke rumah, tetapi di perempatan sebelum tiba di rumah beberapa pemuda menghampirinya bermaksud meminta jatah rokok kata mereka, untunglah akhirnya mereka tahu bahwa ia temanku setelah salahsatu dari mereka menanyakan tujuannya, sehingga mereka agak segan bahkan salahsatu dari mereka mengantarkan temanku itu ke rumahku.
***********************
"Berapa tahun lagi Her di Jawa?", tanya Wak Qori salahsatu pemuka agama yang cukup disegani di kota ini padaku sesaat setelah jamaah isya' bubaran
"Kalau kuliah sudah selesai Wak, tapi aku sudah ditawari salahsatu perusahaan asing disana, jadi mungkin aku langsung kerja dan menetap disana", jawabku menerangkan
"Hmm…itulah yang ku risaukan selama ini beberapa pemuda yang kuharapakan akan pulang dan membangun kota ini setelah lama belajar di kota orang juga tidak mau kembali, ternyata kau pun demikian" ucap Wak Qori menyesalkan. Aku terdiam.
"Kampung yang beranjak jadi kota ini kehilangan panutan, para pemuka agama sudah semakin tua, para pemuda semakin sedikit yang berminat pada ilmu agama, saya khawatir masyarakat semakin kehilangan pegangan, karena tak ada yang dapat di jadikan contoh". Lanjutnya. Sementara aku hanya mengangguk sambil mendengarkan.
"Bagaimana pendapatmu Her??"tanya Wak Qori, aku terkejut dan menjawab dengan ragu.
"Iya Wak, aku juga merasakan itu"
"Terus, apa kau punya solusi?"
"Belum," jawabku singkat. Aku tak mau menawarkan solusi-solusi argumentatif dan kemudian lepas tangan.
"Kau benar-benar tak berminat kembali kesini Her??"tanyanya kemudian
"Nanti saya pikirkan lagi Wak", jawabku kecut
"Ya sudah, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik bagi kita" Ujar Wak Qori bijak sambil mengakhiri pembicaraan.
******************
"Assalamualaikum Kak Herman..!!"
"Eh..Den Waalaikum salam Warohmatulloh..!"
"Gimana kabarnya Kak?, makin sehat aja kayaknya",
"Iya nih, Alhamdulillah, kamu gimana Den makin ganteng aja kayaknya"
"Ah Kakak bisa saja, Alhamdulillah baik-baik juga Kak", jawab Deni dengan semangat
"Gak kerja Den..?"tanyaku
"Wah nggak nih Kak, sudah habis kontrak"jawabnya singkat
"Memang kerja dimana kemarin?",
"Di pabrik karet kampung sebelah Kak",ujarnya
"Eh..duduk disitu yok Kak kita ngobrol", ajaknya sambil menunjuk sebuah Pos kamling tak jauh dari kami
"Ok deh..", jawabku sambil merangkulnya menuju Pos Kamling.
"Lama Kak disini?",
"Mm….kira-kira satu bulan lah..kenapa?"jawabku sambil menatapnya.
"Mm…begini Kak..saya lagi bingung nih dengan kondisi kampung kita"
"Emangnya kenapa?",tanyaku ingin tahu pendapatnya tentang kampung ini
"Pengangguran semakin bertambah, kemiskinan semakin menjadi, bahkan orang-orang yang dulu kita anggap kaya sekarang makan saja sulit, apalagi yang memang dari dulu miskin", Aku masih mendengarkan dengan antusias
"Sementara para pemuda semakin sulit untuk diajak rapat-rapat remaja masjid ataupun Karang Taruna, semuanya terbius dengan kemalasan dan Ego pribadi"
"Mungkin mereka sibuk?"pancingku
"Mungkin iya sebagian kecil, tetapi sebagian besarnya mereka memilih nongkrong di pinggir-pinggir jalan sambil gitaran, hampir setiap hari begitu"jawabnya dengan nada kecewa
"Apa kau sudah mencoba mengajak mereka?"
"Sudah sering Kak, tapi mungkin pengaruhku tidak begitu kuat"
"Kalau begitu kau cari saja pemuda yang berpengaruh kemudian gunakan dia untuk mengajak mereka"
"Wah sulit Kak, sampai saat ini nggak ada pemuda yang benar-benar berpengaruh di kampung ini"jawabnya setengah putus asa.
"Kecuali…."katanya ragu
"Kecuali apa?"
"Kecuali… kalau Kakak mau tinggal disini selamanya dan berjuang bersama kami" jawabnya penuh harap. Hmm…terulang lagi pikirku percakapanku dengan Wak Qori beberapa hari yang lalu.
"Gimana Kak..?"tanyanya mendesak
"Iya deh nanti Kakak pikirkan"jawabku ragu
"Jangan lama-lama lo Kak mikirnya..jawabannya ditunggu"
"Iya deh.udah ya Kakak pamit dulu mau ke rumah Nenek nih.."
"Ok Kak.., ditunggu ya jawabannya"
"Iya.., Assalamualaikum",tutupku sambil menepuk pundaknya dan berlalu.Aku cukup bangga dengan pemuda satu ini umurnya mungkin sekitar tiga tahun di bawahku tapi semangatnya untuk memperbaiki kampung ini sangatlah menakjubkan..ah…berikan hamba pilihan yang terbaik ya Allah…
*************
Angin berhembus lembut menyapa setiap makhluk yang ia temui. Malam menyelimuti semesta dengan gelap yang cukup sempurna, aspal jalan yang hitam makin menambah keperkasaan malam setelah guyuran hujan membasahinya beberapa jam yang lalu. Suara gitar dan lagu yang dimainkan beberapa pemuda kampung di pos kamling sebelah rumah masih terdengar bersahutan dengan suara binatang malam membuat sunyi tak kuasa untuk tak berbagi wilayah dengan mereka. Penduduk kampung ini tentu telah terlelap membawa penat mereka masing-masing setelah beraktifitas seharian. Sementara aku masih termenung menatap daun yang gugur kemudian jatuh ke tanah basah bekas hujan beberapa jam yang lalu melalui jendela kamar yang sengaja kubuka. Mata ku tak mau terpejam, gundah menulusuri setiap bagian dalam otak ku, percakapan dengan Wak Qori dan Deni terus terngiang menuntut untuk cepat di selesaikan. Sementara waktu ku di kampung ini hanya tinggal dua hari lagi, tiket ke pulangan ku ke jawa pun sudah terbeli. Tetapi tetap saja aku masih gundah. Wajar kalau mereka mengharapkan ku sebenarnya meskipun di jawa aku tak belajar agama secara khusus namun sebelumnya aku adalah seorang Alumni dari pesantren yang cukup terkenal di Propinsi ini, tetapi apa yang bisa kulakukan disini untuk memenuhi kebutuhan pribadiku, toh.., di jawa aku masih bisa berdakwah dan membangun masyarakat dengan tidak lagi ke bingungan akan persoalan materi sementara disini…, tetapi…bagaimana masa depan kampung ini bila setiap orang yang di harapkan berpikir seperti aku. Ah… Allah..aku bingung. Kulirik jam dinding di kamarku pukul dua sekarang, berarti sudah cukup lama aku termenung disini, suara gitar dan lagu yang dimainkan para pemuda kampung tadi sudah tak terdengar mungkin mereka sudah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing, hanya suara binatang malam yang masih terdengar membelah sunyi. Tiba-tiba aku rindu untuk bersujud dan bersimpuh pada-Nya dengan istikhoroh yang khusu' mengharap di tunjukkan jalan yang terbaik untuk diriku dan kampung ini. Allah….ku serahkan semuanya pada-Mu.
**********************
Pagi yang cerah tilawahku setelah subuh tadi menambah bening suasana, Sisi adikku sedang asyik membantu ibu di dapur mempersiapkan sarapan pagi yang sangat ditunggu oleh semua penghuni rumah ini, Bapak masih asyik dengan Angkot yang harus di panaskan sebelum kemudian beroperasi mengangkut setiap penumpang yang akan menuju ke tujuan mereka masing-masing, sementara aku masih asyik dengan Fi zhilalil Qur'an-nya Sayyid Quthb di tangan.
Kulirik arloji kesayanganku sudah pukul tujuh rupanya tak lama terdengar suara adikku memanggil.
"Kak sarapan..! udah siap tuh",
"Iya sebentar", jawabku singkat
"Udah di tunggu lo..".
"Hmm..iya bawel..!" sahutku menggodanya
"Yeee dasar ikhwan lapuk..!!"
"Eeh...kok jadi kearah situ sih keselnya."
"Biarin..emang ikhwan lapuk kan..!" ujarnya sambil ngeloyor ke dapur
Aku cuma tersenyum, memang sudah saatnya aku mengakhiri masa lajangku pikirku.
"Gimana Her sudah mantap mau pulang ke jawa?", tanya bapak saat kami sarapan
"Emm..masih bingung Pak",
"Kan tiket sudah kamu beli",
"Iya sih Pak tapi saya masih belum mantap",
"Ya sudah, kalau Bapak terserah kamu saja, bagaimana baiknya", Aku cuma diam.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dan salam dari ruang depan, bergegas adikku menjawabnya dan membukakan pintu.
"Kak Herman ada?" tanya seseorang dengan suara tergesa.
"Ada Den..masuk" sahut Adikku. Rupanya Deni aku bergegas ke depan menemuinya
"Hei…Den, kenapa? Ada yang bisa Kakak bantu?," tanyaku sambil tersenyum
"Begini Kak kemarin pagi kira-kira jam sembilan ada orang kampung sebelah yang meninggal"
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..siapa?"
"Mang Edi penjual bakso itu, meninggal karena sakit"
"Kok nggak sampai kesini kabarnya, apa sudah di makamkan"
"Justru itu Kak saya kesini, dari kemarin mereka mencari orang yang bisa mengurus jenazah, karena orang yang biasa dan bisa mengurusi jenazah di kampung itu telah meninggal beberapa minggu yang lalu, Nah tadi pagi salahsatu keluarga mereka ke rumah Wak Qori tetapi ternyata beliau sedang keluar kota kira-kira satu minggu ini", Deni menjelaskan dengan detail
"Di tengah jalan saudaranya itu ketemu saya, dan bercerita tentang meninggalnya Mang Edi dan kesulitan untuk mengurus jenazahnya, kemudian saya beritahu dia tentang Kak Herman, setelah itu dia meminta saya untuk menghubungi Kak Herman karena di rumah masih banyak yang harus ia urus",Aku terhenyak mendengar penjelasan Deni. Allah….bagaimana kalau Wak Qori pun meninggal dan aku telah pulang ke Jawa siapa yang akan mengurus jenazah-jenazah di kampung ini dan kampung sebelah. Yaa….Rohim…inikah jawaban-Mu atas airmata dalam istikhorohku tadi malam.
"Ya sudah ayo kita kesana sekarang", seruku mantap seiring dengan mantapnya hatiku untuk menetap di kampung ini selamanya, ya..selama hayat masih di kandung badan. Insya Allah….
Jogja,Wisma Sedulang Setudung,Medio Januari 2006
Sejak lima tahun yang lalu, semenjak air mata Ibu menetes mengantar kepergianku meskipun airmata itu kemudian disekanya karna takut aku pun akan sedih dengan lelehnya air mata itu, semenjak nasehat-nasehat tajam Bapak yang meskipun kaku tetap membasahi hatiku yang kerontang mengiringi kepergianku. Memang begitulah bapak nasehatnya kaku, meskipun aku tahu ia berusaha menyembunyikan getar sayang dihati nya. Ya, mungkin kehidupan yang pernah dilalui bapak terlalu keras untuk sekedar mendidiknya menjadi penyayang yang tidak kaku , namun aku yakin ada kasih yang meluap-luap dari kekakuan itu. Ketika itu Gandus hanyalah sebuah kampung yang masih berbenah diri bagaikan seorang ABG yang baru kenal bedak ataupun lipstik
Menginjakkan kembali kaki ku di kampung yang sudah beranjak menjadi kota ini, menimbulkan harapan sekaligus kecemasan di relung hati ini. Mencari harapan di tengah riuh bocah-bocah yang dengan riang mempelajari kitab Allah di masjid-masjid kota kecil ini seperti dulu adalah sebuah kenangan, karena kini mereka telah pergi, hanya sedikit sekali yang tersisa, hanya sedikit sekali yang tidak beranjak meninggalkan masjid-masjid menuju Play station, Ding dong dll, simbol modernisasi di kota kecil ini. Segores cemas melukai harapku.
Aku merasakan ke anehan pada perkembangan kota kecil ini, ada yang tak seimbang. Kegemaran meniru diiringi tingkat pendidikan yang rendah sehingga filter nyaris tak ada, konsumerisme diiringi tingkat kemiskinan yang meningkat sehingga membuat para bapak kalap dan gelap mata untuk membedakan antara yang halal dan yang haram dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Ah.. kerinduan akan masa lalu semakin menjadi-jadi mendera jiwa ini, kerinduan akan pemuda-pemuda kampung yang santun dan ramah, kerinduan akan kemudahan para bapak dalam mencari nafkah, dengan hanya bermodalkan pengilar-pengilar reot sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Kegamangan ku genap sudah, setelah ku dengar NARKOBA mulai menampakkan taringnya di kota kecil ini, membuat para pemuda semakin terseok-seok menapaki masa depannya. Perjudian….ah… itu memang kebiasaan lama, tapi sekarang makin menjadi, membuat para bapak menjadikannya alternatif pencarian nafkah. Konyol.
****************
“Eh, lis udah denger gosip baru belum?,”
“Belum tuh, emang ada gosip apaan?,”
“Itu lho.. tentang perselingkuhan!,”
“Perselingkuhan….?!,”
“Iya, perselingkuhan,”
“Emang siapa yang selingkuh?,”
“Itu lho.. Mang Kimas dan Yuk Sumi yang tukang jamu itu,”
“Masa’ sih!,”
“E…. nggak percaya, itu sudah menjadi rahasia umum, tau..!,”
Tanpa sengaja terdengar oleh ku obrolan Sisi adikku dan Lisa temannya, dasar perempuan pikirku, walaupun sudah jadi Akhwat kebiasaan ngerumpi masih jalan terus (Afwan Ya para Akhwat…J). Ah… satu lagi topik yang mulai sering menghiasi bibir orang di kota kecil ini. Perselingkuhan. Ya, sudah beberapa hari ini aku mendengar cerita-cerita tentang perselingkuhan itu, bukan, itu bukan sekedar gosip karena kasus itu sudah pernah di bawa kepada yang berwajib dan terbukti. “Perselingkuhan..,” desis ku. Dulu tak pernah terpikir di benak ku bahwa suatu hari perselingkuhan itu akan menjadi kenyataan di kota kecil ini, ya tak pernah terbayangkan bahwa itu akan terjadi di kota sekecil ini. Kupikir hanya di sinetron-sinetron saja perselingkuhan itu berwujud. Tiba-tiba aku tersentak, teringat apa yang pernah ku baca di sebuah Majalah Islam tentang pengaruh sinetron terhadap masyarakat. Benarkah itu dampak dari sinetron yang mereka konsumsi setiap hari. Tanyaku dalam hati. Oh…. Kini lengkap sudah kebobrokan di kampung ini. Ada satu lagi luka menggores harapku.
*******************
Sekali lagi ada ketidak seimbangan pada kehidupan masyarakat di kota kecil ini. Pengangguran yang meningkat diiringi berdirinya perusahaan-perusahaan yang merekrut pekerja dari luar kota ini, sehingga masyarakat kota ini hanya bisa menjadi penonton keberhasilan orang luar di kota mereka. Inilah yang agak merisaukan ku kesenjangan sosial antara pendatang dan masyarakat asli kota kecil ku ini tak dapat di hindari lagi. Masyarakat semakin apriori dengan para pendatang, atau lebih tepatnya semakin ‘buas’ terhadap mereka contohnya kemarin seorang teman yang mendengar kepulangan ku datang silaturohim ke rumah, tetapi di perempatan sebelum tiba di rumah beberapa pemuda menghampirinya bermaksud meminta jatah rokok kata mereka, untunglah akhirnya mereka tahu bahwa ia temanku setelah salahsatu dari mereka menanyakan tujuannya, sehingga mereka agak segan bahkan salahsatu dari mereka mengantarkan temanku itu ke rumahku.
***********************
"Berapa tahun lagi Her di Jawa?", tanya Wak Qori salahsatu pemuka agama yang cukup disegani di kota ini padaku sesaat setelah jamaah isya' bubaran
"Kalau kuliah sudah selesai Wak, tapi aku sudah ditawari salahsatu perusahaan asing disana, jadi mungkin aku langsung kerja dan menetap disana", jawabku menerangkan
"Hmm…itulah yang ku risaukan selama ini beberapa pemuda yang kuharapakan akan pulang dan membangun kota ini setelah lama belajar di kota orang juga tidak mau kembali, ternyata kau pun demikian" ucap Wak Qori menyesalkan. Aku terdiam.
"Kampung yang beranjak jadi kota ini kehilangan panutan, para pemuka agama sudah semakin tua, para pemuda semakin sedikit yang berminat pada ilmu agama, saya khawatir masyarakat semakin kehilangan pegangan, karena tak ada yang dapat di jadikan contoh". Lanjutnya. Sementara aku hanya mengangguk sambil mendengarkan.
"Bagaimana pendapatmu Her??"tanya Wak Qori, aku terkejut dan menjawab dengan ragu.
"Iya Wak, aku juga merasakan itu"
"Terus, apa kau punya solusi?"
"Belum," jawabku singkat. Aku tak mau menawarkan solusi-solusi argumentatif dan kemudian lepas tangan.
"Kau benar-benar tak berminat kembali kesini Her??"tanyanya kemudian
"Nanti saya pikirkan lagi Wak", jawabku kecut
"Ya sudah, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik bagi kita" Ujar Wak Qori bijak sambil mengakhiri pembicaraan.
******************
"Assalamualaikum Kak Herman..!!"
"Eh..Den Waalaikum salam Warohmatulloh..!"
"Gimana kabarnya Kak?, makin sehat aja kayaknya",
"Iya nih, Alhamdulillah, kamu gimana Den makin ganteng aja kayaknya"
"Ah Kakak bisa saja, Alhamdulillah baik-baik juga Kak", jawab Deni dengan semangat
"Gak kerja Den..?"tanyaku
"Wah nggak nih Kak, sudah habis kontrak"jawabnya singkat
"Memang kerja dimana kemarin?",
"Di pabrik karet kampung sebelah Kak",ujarnya
"Eh..duduk disitu yok Kak kita ngobrol", ajaknya sambil menunjuk sebuah Pos kamling tak jauh dari kami
"Ok deh..", jawabku sambil merangkulnya menuju Pos Kamling.
"Lama Kak disini?",
"Mm….kira-kira satu bulan lah..kenapa?"jawabku sambil menatapnya.
"Mm…begini Kak..saya lagi bingung nih dengan kondisi kampung kita"
"Emangnya kenapa?",tanyaku ingin tahu pendapatnya tentang kampung ini
"Pengangguran semakin bertambah, kemiskinan semakin menjadi, bahkan orang-orang yang dulu kita anggap kaya sekarang makan saja sulit, apalagi yang memang dari dulu miskin", Aku masih mendengarkan dengan antusias
"Sementara para pemuda semakin sulit untuk diajak rapat-rapat remaja masjid ataupun Karang Taruna, semuanya terbius dengan kemalasan dan Ego pribadi"
"Mungkin mereka sibuk?"pancingku
"Mungkin iya sebagian kecil, tetapi sebagian besarnya mereka memilih nongkrong di pinggir-pinggir jalan sambil gitaran, hampir setiap hari begitu"jawabnya dengan nada kecewa
"Apa kau sudah mencoba mengajak mereka?"
"Sudah sering Kak, tapi mungkin pengaruhku tidak begitu kuat"
"Kalau begitu kau cari saja pemuda yang berpengaruh kemudian gunakan dia untuk mengajak mereka"
"Wah sulit Kak, sampai saat ini nggak ada pemuda yang benar-benar berpengaruh di kampung ini"jawabnya setengah putus asa.
"Kecuali…."katanya ragu
"Kecuali apa?"
"Kecuali… kalau Kakak mau tinggal disini selamanya dan berjuang bersama kami" jawabnya penuh harap. Hmm…terulang lagi pikirku percakapanku dengan Wak Qori beberapa hari yang lalu.
"Gimana Kak..?"tanyanya mendesak
"Iya deh nanti Kakak pikirkan"jawabku ragu
"Jangan lama-lama lo Kak mikirnya..jawabannya ditunggu"
"Iya deh.udah ya Kakak pamit dulu mau ke rumah Nenek nih.."
"Ok Kak.., ditunggu ya jawabannya"
"Iya.., Assalamualaikum",tutupku sambil menepuk pundaknya dan berlalu.Aku cukup bangga dengan pemuda satu ini umurnya mungkin sekitar tiga tahun di bawahku tapi semangatnya untuk memperbaiki kampung ini sangatlah menakjubkan..ah…berikan hamba pilihan yang terbaik ya Allah…
*************
Angin berhembus lembut menyapa setiap makhluk yang ia temui. Malam menyelimuti semesta dengan gelap yang cukup sempurna, aspal jalan yang hitam makin menambah keperkasaan malam setelah guyuran hujan membasahinya beberapa jam yang lalu. Suara gitar dan lagu yang dimainkan beberapa pemuda kampung di pos kamling sebelah rumah masih terdengar bersahutan dengan suara binatang malam membuat sunyi tak kuasa untuk tak berbagi wilayah dengan mereka. Penduduk kampung ini tentu telah terlelap membawa penat mereka masing-masing setelah beraktifitas seharian. Sementara aku masih termenung menatap daun yang gugur kemudian jatuh ke tanah basah bekas hujan beberapa jam yang lalu melalui jendela kamar yang sengaja kubuka. Mata ku tak mau terpejam, gundah menulusuri setiap bagian dalam otak ku, percakapan dengan Wak Qori dan Deni terus terngiang menuntut untuk cepat di selesaikan. Sementara waktu ku di kampung ini hanya tinggal dua hari lagi, tiket ke pulangan ku ke jawa pun sudah terbeli. Tetapi tetap saja aku masih gundah. Wajar kalau mereka mengharapkan ku sebenarnya meskipun di jawa aku tak belajar agama secara khusus namun sebelumnya aku adalah seorang Alumni dari pesantren yang cukup terkenal di Propinsi ini, tetapi apa yang bisa kulakukan disini untuk memenuhi kebutuhan pribadiku, toh.., di jawa aku masih bisa berdakwah dan membangun masyarakat dengan tidak lagi ke bingungan akan persoalan materi sementara disini…, tetapi…bagaimana masa depan kampung ini bila setiap orang yang di harapkan berpikir seperti aku. Ah… Allah..aku bingung. Kulirik jam dinding di kamarku pukul dua sekarang, berarti sudah cukup lama aku termenung disini, suara gitar dan lagu yang dimainkan para pemuda kampung tadi sudah tak terdengar mungkin mereka sudah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing, hanya suara binatang malam yang masih terdengar membelah sunyi. Tiba-tiba aku rindu untuk bersujud dan bersimpuh pada-Nya dengan istikhoroh yang khusu' mengharap di tunjukkan jalan yang terbaik untuk diriku dan kampung ini. Allah….ku serahkan semuanya pada-Mu.
**********************
Pagi yang cerah tilawahku setelah subuh tadi menambah bening suasana, Sisi adikku sedang asyik membantu ibu di dapur mempersiapkan sarapan pagi yang sangat ditunggu oleh semua penghuni rumah ini, Bapak masih asyik dengan Angkot yang harus di panaskan sebelum kemudian beroperasi mengangkut setiap penumpang yang akan menuju ke tujuan mereka masing-masing, sementara aku masih asyik dengan Fi zhilalil Qur'an-nya Sayyid Quthb di tangan.
Kulirik arloji kesayanganku sudah pukul tujuh rupanya tak lama terdengar suara adikku memanggil.
"Kak sarapan..! udah siap tuh",
"Iya sebentar", jawabku singkat
"Udah di tunggu lo..".
"Hmm..iya bawel..!" sahutku menggodanya
"Yeee dasar ikhwan lapuk..!!"
"Eeh...kok jadi kearah situ sih keselnya."
"Biarin..emang ikhwan lapuk kan..!" ujarnya sambil ngeloyor ke dapur
Aku cuma tersenyum, memang sudah saatnya aku mengakhiri masa lajangku pikirku.
"Gimana Her sudah mantap mau pulang ke jawa?", tanya bapak saat kami sarapan
"Emm..masih bingung Pak",
"Kan tiket sudah kamu beli",
"Iya sih Pak tapi saya masih belum mantap",
"Ya sudah, kalau Bapak terserah kamu saja, bagaimana baiknya", Aku cuma diam.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dan salam dari ruang depan, bergegas adikku menjawabnya dan membukakan pintu.
"Kak Herman ada?" tanya seseorang dengan suara tergesa.
"Ada Den..masuk" sahut Adikku. Rupanya Deni aku bergegas ke depan menemuinya
"Hei…Den, kenapa? Ada yang bisa Kakak bantu?," tanyaku sambil tersenyum
"Begini Kak kemarin pagi kira-kira jam sembilan ada orang kampung sebelah yang meninggal"
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..siapa?"
"Mang Edi penjual bakso itu, meninggal karena sakit"
"Kok nggak sampai kesini kabarnya, apa sudah di makamkan"
"Justru itu Kak saya kesini, dari kemarin mereka mencari orang yang bisa mengurus jenazah, karena orang yang biasa dan bisa mengurusi jenazah di kampung itu telah meninggal beberapa minggu yang lalu, Nah tadi pagi salahsatu keluarga mereka ke rumah Wak Qori tetapi ternyata beliau sedang keluar kota kira-kira satu minggu ini", Deni menjelaskan dengan detail
"Di tengah jalan saudaranya itu ketemu saya, dan bercerita tentang meninggalnya Mang Edi dan kesulitan untuk mengurus jenazahnya, kemudian saya beritahu dia tentang Kak Herman, setelah itu dia meminta saya untuk menghubungi Kak Herman karena di rumah masih banyak yang harus ia urus",Aku terhenyak mendengar penjelasan Deni. Allah….bagaimana kalau Wak Qori pun meninggal dan aku telah pulang ke Jawa siapa yang akan mengurus jenazah-jenazah di kampung ini dan kampung sebelah. Yaa….Rohim…inikah jawaban-Mu atas airmata dalam istikhorohku tadi malam.
"Ya sudah ayo kita kesana sekarang", seruku mantap seiring dengan mantapnya hatiku untuk menetap di kampung ini selamanya, ya..selama hayat masih di kandung badan. Insya Allah….
Jogja,Wisma Sedulang Setudung,Medio Januari 2006

1 Comments:
At 11:16 AM,
nawadela said…
gubrakk!!!
kirain salah buka blog sendiri. warnanya sama. ada puisi ma ceritanya juga. hehehe...
udah di comment balik neh. makasih ya, dah mau mampir:D
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home