Elegi Untuk Memet (Cerpen)
Malam telah melewati setengah waktu perjalanannya, suara binatang malam mengalun bersahutan membentuk harmoni alunan nada tersendiri. Khas. Sepoi angin menggerakkan daun-daun di pepohonan ada yang berguguran jatuh ke tanah basah bekas hujan yang turun beberapa jam lalu, sedangkan rembulan enggan menampakkan dirinya, entahlah, mungkin awan terlalu perkasa baginya malam ini. Gelap. Sesosok bayangan berkelebat membelah malam. Ia menuju rumah yang cukup mewah di kampung ini. Rumahnya Haji Rohim orang terkaya di kampung ini, sawahnya membentang luas, apalagi ia pemilik sebagian besar angdes (Angkutan Desa) yang menjadi sarana transportasi di desa ini, ya dia seorang juragan angdes. Klik. pintu belakang rumah itu terbuka. Ah.. begitu mudah pikirnya, kunci rumah ini ternyata hanyalah kunci-kunci murah yang selama ini sudah terbiasa di otak-atiknya. Ow.. dapur rumah ini sungguh berbeda dengan dapur rumahnya, sebuah kompor gas, mesin cuci, kulkas, dispenser, dan banyak lagi barang-barang mahal yang tidak akan di temukannya di dapur rumahnya, bahkan ukuran dapur ini jauh lebih luas dari ukuran rumahnya. Klik. Pintu ruang keluarga terbuka. Sebuah televisi 24 inch, terbentang di depannya sebuah permadani merah yang harganya hmm… cukup untuk makannya satu bulan mungkin. Ia masih berfikir keras yang mana diantara barang-barang mewah ini yang akan di bawa nya, mesin cuci ah… terlalu berat, resikonya terelalu tinggi, televisi 24 inch sama, cukup berat, apalagi kulkas badannya yang kerempeng ini bisa-bisa remuk ketimpa kulkas itu, oh.. iya kompor gas jauh lebih ringan pikirnya. Ia kembali ke dapur, coba diangkatnya kompor gas itu, ya betul cukup ringan. Namun, prangg….!! Sebuah wajan stanlies yang ada di samping kompor gas itu tanpa sengaja tersenggol ujung kompor yang sedang di angkatnya. Ia terkejut bukan main di buatnya.
“Siapa itu..!!!,” teriak Wak Fifah istri Haji Rohim.
Ia berlari tunggang langgang meninggalkan rumah itu tanpa sempat membawa satu barang pun
“ Maling…. Maling…..maling…..!!!. teriak Wak Fifah setelah mendengar suara orang berlari di dapurnya. Haji Rohim terbangun.
*******************
Ramai orang-orang berkumpul di depan rumah Haji Rohim, setelah mendengarkan jeritan Wak Fifah tadi orang-orang yang sedang ronda menabuh kentongan, hasilnya sebagian masyarakat berbondong-bondong keluar terutama laki-laki.
“Saudara-saudara, ada maling yang masuk rumah saya,” ujar Haji Rohim di tengah kerumunan massa.
“ Istri saya yang mendengar langsung derap kakinya berlari meninggalkan rumah saya setelah istri saya berteriak. Dan buktinya kunci dapur saya rusak!,” tambah Haji Rohim.
“Kayaknya dia lari ke belakang sana,” Wak Fifah menimpali sambil menunjuk ke belakang rumahnya.
“Ya udah, kita kejar aja, kita kepung dari berbagai arah, kita bagi menjadi beberapa kelompok, ada yang ke utara, selatan, timur dan barat. Kita abisin aja dia,” ujar seseorang dengan geram.
Kampung Gandus malam itu gempar. Ada pencuri yang berani masuk ke rumah Haji Rohim, orang yang sangat di segani di kampung ini karna ke dermawanannya. Tapi pencarian pada malam itu, tak mendapatkan hasil, pencuri itu mungkin terlalu pintar. Sebelum orang-orang kampung sempat berkumpul ia sudah terlebih dahulu datang ke depan rumah Haji Rohim. Pura-pura ingin ikut mengejar, dia tersenyum dalam hati saat berkumpul malam itu. kalian mengejar bayang-bayang pikirnya.
*******************
Namanya Ahmad Mukhlis, biasa di panggil teman-temannya Memet, sehingga se-kampung Gandus ini orang-orang memanggilnya Memet, kecuali keluarga dekatnya semisal Ibunya tetap memanggilnya Ahmad. Memet adalah anak pertama dari enam bersaudara. Bapaknya Mang Jali sejak empat tahun yang lalu sudah tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya lagi, karena kakinya terkena peluru nyasar saat serombongan polisi mengejar gerombolan perampok di dekat perbatasan desa ini, saat itu ia sedang menjalani kerja rutinnya: jualan bakso, dan sampai saat ini kakinya tinggal satu, karena setelah peristiwa itu kakinya harus di amputasi. Sedangkan Memet pada saat itu masih duduk dikelas dua SLTA di kampungnya ini. Dan keempat Adiknya: Edi, Ayu, lastri, ical. Masing-masing duduk di bangku kelas satu SLTA, kelas dua SLTP,kelas lima SD, dan Ical di kelas dua SD, sedangkan Deni adiknya yang paling kecil masih berumur empat tahun waktu itu. Jadilah Memet semenjak itu pontang-panting membantu perekonomian keluarganya, sedangkan Ibu nya menjadi tukang Cuci di Ruma-rumah orang kaya di kampung ini, termasuk Haji Rohim.
Mencari pekerjaan di kampung ini bukanlah perkara mudah, memang banyak pabrik-pabrik yang berdiri angkuh di sini, seperti pabrik-pabrik karet, ataupun pabrik kayu. Tapi itulah masalahnya pemilik pabrik-pabrik itu, tidak berminat menerima buruh dari kampung ini, karena buruh dari kampung ini banyak mau-nya dan kerjanya malas-malasan begitu alasan mereka, kecuali pada penjagaan keamanan pabrik mereka baru melibatkan preman-preman kampung ini, itupun bukan preman-preman kecil semacam Memet melainkan preman-preman yang sudah sangat di segani di kampung ini semacam Mat Sani yang konon katanya bisa menghilang dan tak mempan peluru, sedangkan Memet uh… tergores saja rasanya sakit sekali. Hanya kondisi keluarga saja yang menuntutnya menjadi preman kecil-kecilan. Dan akhirnya hanya itu yang bisa dilakukan Memet; mencuri, seperti yang dilakukannya di Rumah Haji Rohim malam itu. Profesi itu sudah di lakoni setahun setelah peristiwa yang menimpa bapaknya. Jujur. Kondisi keluarganya memang sangat sulit waktu itu. Sekolah, ah.. itu sudah tak di pikirkannya lagi, namun satu tekadnya adik-adiknya tidak boleh berhenti sekolah sepertinya. Tapi lagi-lagi itu gagal karena dua bulan setelah ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah Edi menyusul dan pergi merantau mencari kerjaan katanya, meskipun sampai sekarang tak sepeser uang pun di kirimkannya, kabar terakhir Edi ada di Jakarta tepatnya di balik jeruji besi setelah ketangkap mencopet di Lebak bulus, tak lama Ayu pun menyusul meninggalkan bangku sekolah, bahkan empat bulan yang lalu Ayu menikah dengan pemuda yang menghamilinya. Sedangkan Lastri, Ical, Deni masing-masing masih sekolah, dari hasil jerih payah Memet dan Ibunya.
**********************
“Met, tadi malam kamu kan yang masuk rumah Haji Rohim?!,” tembak Kuncung sahabat dekatnya yang satu profesi, ketika mereka duduk di tepi sungai Musi sambil merenungi nasib.
“Kok, kamu tau?.” Jawabnya singkat
“Ya, iyalah. Siapa lagi, kalau bukan kamu ya aku, Beben udah minggat, Dede ke tangkap, Mat Sani ?, nggak mungkin itu bukan garapannya. Terlalu kecil.,” Memet hanya diam tidak salah apa yang di katakan Kuncung pikirnya.
“Cung, aku butuh duit sekarang, Ibuku sudah dua hari ini sakit-sakitan dan nggak bisa cari duit, adik-adikku sudah beberapa hari ini sekolah tanpa uang saku dan makan seadanya ketika mau berangkat sekolah, ketika pulang sekolah kadang mereka nggak makan. Ah… kasihan mereka,”
“Kamu sih, udah tahu miskin, adik masih di suruh sekolah, berhentiin aja kenapa sih!?,”
“Aku nggak mau mereka mengikuti jejak ku, aku ingin mereka menjadi orang baik-baik,” Kuncung hanya diam. Sebenarnya ia sudah sangat paham dengan komitmen sahabatnya tentang itu.
Sunyi.
“Met, kamu mau ngelakuin hal besar yang lebih dari sekedar mencuri?,” ujar Kuncung memecah sunyi.
“Maksudmu?,”
“Merampok!,”
“Merampok?,” ujar Memet agak terkejut
“Ya, merampok, seorang teman menawariku kemarin,” Memet hanya diam pikirannya di penuhi dengan bayang-bayang adik-adiknya, Ibunya, bapaknya.
“Tidak terlalu sulit, sasarannya mobil-mobil pribadi yang lalu lalang di jalan lintas propinsi, modusnya kita menghadang mereka dengan pohon yang tumbang,” jelas kuncung melanjutkan.
“Kita memilih daerah yang sepi dan mudah untuk sembunyi, temanku tahu daerah itu, ia sudah beberapa kali berhasil melakukannya” Kuncung masih menjelaskan. Setan mulai merasuki pikiran Memet melalui celah angan-angannya.
“Gimana, Kamu berminat Met?,” Kuncung menawarkan
"Kamu yakin akan berhasil??"Memet mulai tertarik
"Aku yakin seratus persen Met"Jawab Kuncung meyakinkan
"Gimana?",
“Mmm……, oke deh, asal rencananya matang,” entah setan apa yang merasuki pikiran Memet sehingga begitu mudah menyetujui rencana itu, padahal selama ini ia setidaknya masih mempunyai rasa kasihan pada korban-korbannya, sehingga mencuri pun ia masih memilih-milih korban, yaitu orang-orang yang kaya mungkin tidak terlalu merasa kehilangan bila di Gondol TV-nya atau pun Kompor Gas-nya, tapi sekarang ia menyetujui merampok yang tentunya diiringi dengan ancaman bahkan mungkin kekerasan, dan tentunya mereka akan menguras habis harta korban.
“Oke, kalau gitu, besok kita berangkat menemui temanku itu,” Kuncung menutup pembicaraan
*********************
“Cung, aku nggak nyangka kalau kamu tega membunuh lelaki itu!,” Memet menyesalkan apa yang telah dilakukan Kuncung malam itu, malam dimana mereka melaksanakan rencana perampokan. Masih terbayang di benaknya jeritan tangis istri dan anak-anak lelaki paruh baya korban kegenasan mereka malam itu. Kuncung sebenarnya tidak lah berniat melakukan pembunuhan itu, tetapi ia terkejut ketika lelaki paru baya yang belakangan di ketahuinya adalah seorang pegawai Bank swasta itu mencoba merebut celurit yang di kalungkannya di leher lelaki itu, dalam keadaan panik Kuncung menebaskan celurit itu tepat di perutnya, kemudian lehernya, dan lelaki itu ambruk meregang nyawa di hadapan anak istrinya. Dan rombongannya pun meninggalkan lokasi itu dengan hasil rampokannya. Anak istri korban itu tak di hiraukannya lagi, waktu itu sebenarnya Memet tidak tega meninggalkan istri dan anak korban itu di tengah malam yang gelap dan di selimuti duka, tapi untuk menolong mereka itu sama saja ia mengkhianati perjanjian yang ia sepakati dengan teman-temannya.
“Itu masalah pilihan Met, aku terdesak waktu itu, nggak ada pilihan lain!!,” Kuncung membela diri.
“Tapi tidak harus dengan membunuhnya kan?,”
“Aku tidak menyangka kalau sabetan ku mengantarnya meregang nyawa,”
“Bodoh kamu, hasil sabetanmu nyaris memutuskan lehernya, mana mungkin nggak mati”
“Oke oke.., aku mengaku salah saya kira kita tidak usah memperpanjang masalah ini, Oke!,” Memet masih diam dengan hati galau.
“Angkat tangan!!,” suara bernada peringatan mengejutkan mereka berdua yang sedang asyik dalam diam di beranda rumah sederhana milik Kuncung.
“Anda berdua sudah kami kepung. Jangan coba-coba lari,” suara itu terdengar lagi. Mereka panik. Memet repleks menarik tangan kuncung mengajaknya berlari. Mereka berlari diiringi suara tembakan peringatan, mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Dan…. “Dor…dor..,” dua tembakan tepat mengenai kaki dan leher Kuncung. Kuncung ambruk bersimbah darah, Memet menatap tubuh sahabatnya sejenak, kemudian meneruskan langkahnya sekuat tenaga. Ada penyesalan diam-diam merembeti hatinya. Andaikan ia tak menagajak Kuncung lari…
************************
Epilog.
Empat tahun kemudian.
Memet turun dari angdes yang mengantarkannya kembali memasuki Kampung kelahirannya. Ia langsung di sambut tatapan curiga dari orang-orang yang di lewatinya. Sudah beberapa kali senyumnya tidak berbalas, bahkan uluran tangannya tergantung begitu saja tanpa sambutan. Betapa ingin ia mengatakan bahwa ia bukan Memet yang dulu, ia adalah Memet yang baru, Memet yang sempat di panggil Ustadz oleh santri-santri Pesantren milik Kyai Musthofa. Kyai yang menampungnya setelah sekian bulan terlunta-lunta di sebuah terminal kota pelajar. Jogja. Setelah peristiwa penggerebekan yang menewaskan Kuncung sahabatnya itu, ia pergi meniggalkan Sumatera menuju pulau Jawa dengan bekal seadanya. Polisi tak berhasil menangkapnya waktu itu. Kyai musthofa lah yang kemudian membimbingnya memperdalami Islam sehingga ia menjadi seperti sekarang ini, menjadi insan yang bertekad menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya, satu tekadnya ia ingin meminta maaf pada seluruh warga kampung ini terutama orang-orang yang pernah menjadi korbannya, karena ia ingat benar pesan Kyai Musthofa: “Mad..” ia disana di panggil Ahmad, bukan Memet seperti di kampungnya, “Tidak diterima taubat seseorang hingga ia meminta maaf atas dosa yang dilakukannya sesama manusia,” oleh karena itulah ia bertekad meminta maaf, sebelum kemudian ia akan menyerahkan diri pada yang berwajib. Tapi.. penduduk kampung ini masih cukup sulit untuk memaafkannya. Tiba-tiba kerinduan pada keluarganya menyeruak, betapa besar cobaan yang mereka hadapi pikirnya.
Air mata haru menyelimuti pertemuan Memet dengan keluarganya, Memet adalah kebanggaan adik dan orangtuanya dulu karena Memet adalah anak sekaligus kakak yang bertanggung jawab, tapi itu dulu sebelum peristiwa penggerebekan itu terjadi, karena peristiwa itulah yang kemudian membuka tabir kebohongannya pada kelurganya. Meski begitu Memet tetaplah Pahlawan bagi keluarganya, karena itulah air mata haru tak dapat di bendung. Setelah empat tahun mereka berpisah. banyak perubahan pada diri kelurganya, mereka semakin tertata, lebih religius. Suami lastri yang membimbing keluarganya. Lastri adiknya itu satu tahun setelah kepergiannya menikah dengan pemuda yang sholih, Hanif nama pemuda itu. ialah yang menjadi tulang punggung keluarga ini setelah kepergian Memet. Ical sudah duduk di kelas tiga SMU saat ini, dia aktif di Rohis sekolahnya, bahkan ia sempat menjabat Ketua Umum disana, sedangkan Denni ia masih di bangku kelas dua SMP. Allah….. betapa engkau begitu adil pikirnya. Kau kembalikan keluarga kami dalam rengkuhan Mu.. Ya.. Robbal ‘Alamiii…n.
Memet baru keluar dari musholla terdekat dari rumahnya ketika segerombolan Polisi mencegat dan memborgolnya, kemudian menaikannya ke atas sebuah mobil tanpa kap. Ia sama sekali tidak berniat lari waktu itu. toh, dia sudah berniat menyerahkan diri karena tugasnya untuk minta maaf sudah dilakukannya, bahkan Haji Rohim memeluknya ketika ia minta maaf. Tapi… tiba-tiba ada seseorang yang menerjangnya dari belakang, membuat ia tersungkur jatuh dari mobil yang akan membawanya ke kantor polisi itu, tanpa sempat ia menoleh untuk memastikan siapa yang menerjangnya, sebuah peluru telah bersarang tepat di kepalanya. Polisi menembaknya karna ia di duga ingin melarikan diri. Ia sempat mengucapkan sesuatu sebelum nafas terakhirnya terhembus, “La….ilaaha Illallah…..,” kalimat itulah yang menutup usianya. Jasadnya tersenyum di saksikan masyarakat kampung itu.
Jogjakarta, saat adzan isya’ memecah sunyi.
To: Adik-adikku di Gandus dan Assalam Muba:
Ayo…. Menulis…. Dan membaca…!!
“Siapa itu..!!!,” teriak Wak Fifah istri Haji Rohim.
Ia berlari tunggang langgang meninggalkan rumah itu tanpa sempat membawa satu barang pun
“ Maling…. Maling…..maling…..!!!. teriak Wak Fifah setelah mendengar suara orang berlari di dapurnya. Haji Rohim terbangun.
*******************
Ramai orang-orang berkumpul di depan rumah Haji Rohim, setelah mendengarkan jeritan Wak Fifah tadi orang-orang yang sedang ronda menabuh kentongan, hasilnya sebagian masyarakat berbondong-bondong keluar terutama laki-laki.
“Saudara-saudara, ada maling yang masuk rumah saya,” ujar Haji Rohim di tengah kerumunan massa.
“ Istri saya yang mendengar langsung derap kakinya berlari meninggalkan rumah saya setelah istri saya berteriak. Dan buktinya kunci dapur saya rusak!,” tambah Haji Rohim.
“Kayaknya dia lari ke belakang sana,” Wak Fifah menimpali sambil menunjuk ke belakang rumahnya.
“Ya udah, kita kejar aja, kita kepung dari berbagai arah, kita bagi menjadi beberapa kelompok, ada yang ke utara, selatan, timur dan barat. Kita abisin aja dia,” ujar seseorang dengan geram.
Kampung Gandus malam itu gempar. Ada pencuri yang berani masuk ke rumah Haji Rohim, orang yang sangat di segani di kampung ini karna ke dermawanannya. Tapi pencarian pada malam itu, tak mendapatkan hasil, pencuri itu mungkin terlalu pintar. Sebelum orang-orang kampung sempat berkumpul ia sudah terlebih dahulu datang ke depan rumah Haji Rohim. Pura-pura ingin ikut mengejar, dia tersenyum dalam hati saat berkumpul malam itu. kalian mengejar bayang-bayang pikirnya.
*******************
Namanya Ahmad Mukhlis, biasa di panggil teman-temannya Memet, sehingga se-kampung Gandus ini orang-orang memanggilnya Memet, kecuali keluarga dekatnya semisal Ibunya tetap memanggilnya Ahmad. Memet adalah anak pertama dari enam bersaudara. Bapaknya Mang Jali sejak empat tahun yang lalu sudah tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya lagi, karena kakinya terkena peluru nyasar saat serombongan polisi mengejar gerombolan perampok di dekat perbatasan desa ini, saat itu ia sedang menjalani kerja rutinnya: jualan bakso, dan sampai saat ini kakinya tinggal satu, karena setelah peristiwa itu kakinya harus di amputasi. Sedangkan Memet pada saat itu masih duduk dikelas dua SLTA di kampungnya ini. Dan keempat Adiknya: Edi, Ayu, lastri, ical. Masing-masing duduk di bangku kelas satu SLTA, kelas dua SLTP,kelas lima SD, dan Ical di kelas dua SD, sedangkan Deni adiknya yang paling kecil masih berumur empat tahun waktu itu. Jadilah Memet semenjak itu pontang-panting membantu perekonomian keluarganya, sedangkan Ibu nya menjadi tukang Cuci di Ruma-rumah orang kaya di kampung ini, termasuk Haji Rohim.
Mencari pekerjaan di kampung ini bukanlah perkara mudah, memang banyak pabrik-pabrik yang berdiri angkuh di sini, seperti pabrik-pabrik karet, ataupun pabrik kayu. Tapi itulah masalahnya pemilik pabrik-pabrik itu, tidak berminat menerima buruh dari kampung ini, karena buruh dari kampung ini banyak mau-nya dan kerjanya malas-malasan begitu alasan mereka, kecuali pada penjagaan keamanan pabrik mereka baru melibatkan preman-preman kampung ini, itupun bukan preman-preman kecil semacam Memet melainkan preman-preman yang sudah sangat di segani di kampung ini semacam Mat Sani yang konon katanya bisa menghilang dan tak mempan peluru, sedangkan Memet uh… tergores saja rasanya sakit sekali. Hanya kondisi keluarga saja yang menuntutnya menjadi preman kecil-kecilan. Dan akhirnya hanya itu yang bisa dilakukan Memet; mencuri, seperti yang dilakukannya di Rumah Haji Rohim malam itu. Profesi itu sudah di lakoni setahun setelah peristiwa yang menimpa bapaknya. Jujur. Kondisi keluarganya memang sangat sulit waktu itu. Sekolah, ah.. itu sudah tak di pikirkannya lagi, namun satu tekadnya adik-adiknya tidak boleh berhenti sekolah sepertinya. Tapi lagi-lagi itu gagal karena dua bulan setelah ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah Edi menyusul dan pergi merantau mencari kerjaan katanya, meskipun sampai sekarang tak sepeser uang pun di kirimkannya, kabar terakhir Edi ada di Jakarta tepatnya di balik jeruji besi setelah ketangkap mencopet di Lebak bulus, tak lama Ayu pun menyusul meninggalkan bangku sekolah, bahkan empat bulan yang lalu Ayu menikah dengan pemuda yang menghamilinya. Sedangkan Lastri, Ical, Deni masing-masing masih sekolah, dari hasil jerih payah Memet dan Ibunya.
**********************
“Met, tadi malam kamu kan yang masuk rumah Haji Rohim?!,” tembak Kuncung sahabat dekatnya yang satu profesi, ketika mereka duduk di tepi sungai Musi sambil merenungi nasib.
“Kok, kamu tau?.” Jawabnya singkat
“Ya, iyalah. Siapa lagi, kalau bukan kamu ya aku, Beben udah minggat, Dede ke tangkap, Mat Sani ?, nggak mungkin itu bukan garapannya. Terlalu kecil.,” Memet hanya diam tidak salah apa yang di katakan Kuncung pikirnya.
“Cung, aku butuh duit sekarang, Ibuku sudah dua hari ini sakit-sakitan dan nggak bisa cari duit, adik-adikku sudah beberapa hari ini sekolah tanpa uang saku dan makan seadanya ketika mau berangkat sekolah, ketika pulang sekolah kadang mereka nggak makan. Ah… kasihan mereka,”
“Kamu sih, udah tahu miskin, adik masih di suruh sekolah, berhentiin aja kenapa sih!?,”
“Aku nggak mau mereka mengikuti jejak ku, aku ingin mereka menjadi orang baik-baik,” Kuncung hanya diam. Sebenarnya ia sudah sangat paham dengan komitmen sahabatnya tentang itu.
Sunyi.
“Met, kamu mau ngelakuin hal besar yang lebih dari sekedar mencuri?,” ujar Kuncung memecah sunyi.
“Maksudmu?,”
“Merampok!,”
“Merampok?,” ujar Memet agak terkejut
“Ya, merampok, seorang teman menawariku kemarin,” Memet hanya diam pikirannya di penuhi dengan bayang-bayang adik-adiknya, Ibunya, bapaknya.
“Tidak terlalu sulit, sasarannya mobil-mobil pribadi yang lalu lalang di jalan lintas propinsi, modusnya kita menghadang mereka dengan pohon yang tumbang,” jelas kuncung melanjutkan.
“Kita memilih daerah yang sepi dan mudah untuk sembunyi, temanku tahu daerah itu, ia sudah beberapa kali berhasil melakukannya” Kuncung masih menjelaskan. Setan mulai merasuki pikiran Memet melalui celah angan-angannya.
“Gimana, Kamu berminat Met?,” Kuncung menawarkan
"Kamu yakin akan berhasil??"Memet mulai tertarik
"Aku yakin seratus persen Met"Jawab Kuncung meyakinkan
"Gimana?",
“Mmm……, oke deh, asal rencananya matang,” entah setan apa yang merasuki pikiran Memet sehingga begitu mudah menyetujui rencana itu, padahal selama ini ia setidaknya masih mempunyai rasa kasihan pada korban-korbannya, sehingga mencuri pun ia masih memilih-milih korban, yaitu orang-orang yang kaya mungkin tidak terlalu merasa kehilangan bila di Gondol TV-nya atau pun Kompor Gas-nya, tapi sekarang ia menyetujui merampok yang tentunya diiringi dengan ancaman bahkan mungkin kekerasan, dan tentunya mereka akan menguras habis harta korban.
“Oke, kalau gitu, besok kita berangkat menemui temanku itu,” Kuncung menutup pembicaraan
*********************
“Cung, aku nggak nyangka kalau kamu tega membunuh lelaki itu!,” Memet menyesalkan apa yang telah dilakukan Kuncung malam itu, malam dimana mereka melaksanakan rencana perampokan. Masih terbayang di benaknya jeritan tangis istri dan anak-anak lelaki paruh baya korban kegenasan mereka malam itu. Kuncung sebenarnya tidak lah berniat melakukan pembunuhan itu, tetapi ia terkejut ketika lelaki paru baya yang belakangan di ketahuinya adalah seorang pegawai Bank swasta itu mencoba merebut celurit yang di kalungkannya di leher lelaki itu, dalam keadaan panik Kuncung menebaskan celurit itu tepat di perutnya, kemudian lehernya, dan lelaki itu ambruk meregang nyawa di hadapan anak istrinya. Dan rombongannya pun meninggalkan lokasi itu dengan hasil rampokannya. Anak istri korban itu tak di hiraukannya lagi, waktu itu sebenarnya Memet tidak tega meninggalkan istri dan anak korban itu di tengah malam yang gelap dan di selimuti duka, tapi untuk menolong mereka itu sama saja ia mengkhianati perjanjian yang ia sepakati dengan teman-temannya.
“Itu masalah pilihan Met, aku terdesak waktu itu, nggak ada pilihan lain!!,” Kuncung membela diri.
“Tapi tidak harus dengan membunuhnya kan?,”
“Aku tidak menyangka kalau sabetan ku mengantarnya meregang nyawa,”
“Bodoh kamu, hasil sabetanmu nyaris memutuskan lehernya, mana mungkin nggak mati”
“Oke oke.., aku mengaku salah saya kira kita tidak usah memperpanjang masalah ini, Oke!,” Memet masih diam dengan hati galau.
“Angkat tangan!!,” suara bernada peringatan mengejutkan mereka berdua yang sedang asyik dalam diam di beranda rumah sederhana milik Kuncung.
“Anda berdua sudah kami kepung. Jangan coba-coba lari,” suara itu terdengar lagi. Mereka panik. Memet repleks menarik tangan kuncung mengajaknya berlari. Mereka berlari diiringi suara tembakan peringatan, mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Dan…. “Dor…dor..,” dua tembakan tepat mengenai kaki dan leher Kuncung. Kuncung ambruk bersimbah darah, Memet menatap tubuh sahabatnya sejenak, kemudian meneruskan langkahnya sekuat tenaga. Ada penyesalan diam-diam merembeti hatinya. Andaikan ia tak menagajak Kuncung lari…
************************
Epilog.
Empat tahun kemudian.
Memet turun dari angdes yang mengantarkannya kembali memasuki Kampung kelahirannya. Ia langsung di sambut tatapan curiga dari orang-orang yang di lewatinya. Sudah beberapa kali senyumnya tidak berbalas, bahkan uluran tangannya tergantung begitu saja tanpa sambutan. Betapa ingin ia mengatakan bahwa ia bukan Memet yang dulu, ia adalah Memet yang baru, Memet yang sempat di panggil Ustadz oleh santri-santri Pesantren milik Kyai Musthofa. Kyai yang menampungnya setelah sekian bulan terlunta-lunta di sebuah terminal kota pelajar. Jogja. Setelah peristiwa penggerebekan yang menewaskan Kuncung sahabatnya itu, ia pergi meniggalkan Sumatera menuju pulau Jawa dengan bekal seadanya. Polisi tak berhasil menangkapnya waktu itu. Kyai musthofa lah yang kemudian membimbingnya memperdalami Islam sehingga ia menjadi seperti sekarang ini, menjadi insan yang bertekad menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya, satu tekadnya ia ingin meminta maaf pada seluruh warga kampung ini terutama orang-orang yang pernah menjadi korbannya, karena ia ingat benar pesan Kyai Musthofa: “Mad..” ia disana di panggil Ahmad, bukan Memet seperti di kampungnya, “Tidak diterima taubat seseorang hingga ia meminta maaf atas dosa yang dilakukannya sesama manusia,” oleh karena itulah ia bertekad meminta maaf, sebelum kemudian ia akan menyerahkan diri pada yang berwajib. Tapi.. penduduk kampung ini masih cukup sulit untuk memaafkannya. Tiba-tiba kerinduan pada keluarganya menyeruak, betapa besar cobaan yang mereka hadapi pikirnya.
Air mata haru menyelimuti pertemuan Memet dengan keluarganya, Memet adalah kebanggaan adik dan orangtuanya dulu karena Memet adalah anak sekaligus kakak yang bertanggung jawab, tapi itu dulu sebelum peristiwa penggerebekan itu terjadi, karena peristiwa itulah yang kemudian membuka tabir kebohongannya pada kelurganya. Meski begitu Memet tetaplah Pahlawan bagi keluarganya, karena itulah air mata haru tak dapat di bendung. Setelah empat tahun mereka berpisah. banyak perubahan pada diri kelurganya, mereka semakin tertata, lebih religius. Suami lastri yang membimbing keluarganya. Lastri adiknya itu satu tahun setelah kepergiannya menikah dengan pemuda yang sholih, Hanif nama pemuda itu. ialah yang menjadi tulang punggung keluarga ini setelah kepergian Memet. Ical sudah duduk di kelas tiga SMU saat ini, dia aktif di Rohis sekolahnya, bahkan ia sempat menjabat Ketua Umum disana, sedangkan Denni ia masih di bangku kelas dua SMP. Allah….. betapa engkau begitu adil pikirnya. Kau kembalikan keluarga kami dalam rengkuhan Mu.. Ya.. Robbal ‘Alamiii…n.
Memet baru keluar dari musholla terdekat dari rumahnya ketika segerombolan Polisi mencegat dan memborgolnya, kemudian menaikannya ke atas sebuah mobil tanpa kap. Ia sama sekali tidak berniat lari waktu itu. toh, dia sudah berniat menyerahkan diri karena tugasnya untuk minta maaf sudah dilakukannya, bahkan Haji Rohim memeluknya ketika ia minta maaf. Tapi… tiba-tiba ada seseorang yang menerjangnya dari belakang, membuat ia tersungkur jatuh dari mobil yang akan membawanya ke kantor polisi itu, tanpa sempat ia menoleh untuk memastikan siapa yang menerjangnya, sebuah peluru telah bersarang tepat di kepalanya. Polisi menembaknya karna ia di duga ingin melarikan diri. Ia sempat mengucapkan sesuatu sebelum nafas terakhirnya terhembus, “La….ilaaha Illallah…..,” kalimat itulah yang menutup usianya. Jasadnya tersenyum di saksikan masyarakat kampung itu.
Jogjakarta, saat adzan isya’ memecah sunyi.
To: Adik-adikku di Gandus dan Assalam Muba:
Ayo…. Menulis…. Dan membaca…!!

0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home