Menggoreskan Pena Mencerahkan Dunia

Banyak yg telah tertoreh pd lembar putih karya anak manusia nmn tak kuasa mmberi setitik terang pa temaram dunia yang kian menggelap, krn dimensi ragawi mnguasai kata.Ku coba goreskan pena yg mungkin tak setajam pena yg mereka punya dgn harapan dunia dapatkan terangnya,krn menulis bagiku adlh ibadah hinggga setiap kata adlh tasbih pada-Nya. Allah....ku coba goreskan pena tuk cerahkan dunia...

Sunday, January 28, 2007

Terbata Mengeja Sepertiga Malam-Mu

Terbata mengeja sepertiga malam-Mu
Dalam rengkuh rindu yang tak pernah lama
Dalam dahaga cinta yang tak pernah sudah
Terpaku aku pada rindu yang bersenandung pilu

Tergagap mengeja sepertiga malam-Mu
Dalam hening hati yang semakin jauh dari bening
Dalam kering jiwa yang semakin jauh dari taqwa
Tertegun aku pada telaga hati yang kian surut

Terbata mengeja sepertiga malam-Mu
Yang telah lama tak disinggahi
Yang telah lama tak dihadiri
Oleh iman yang lama tak sadar diri

Tampar saja wajah iman ini Tuhan...!
Sampai berpaling, dan menatap-Mu kembali dengan cinta..

Tampar saja wajah iman ini Tuhan..!
Sampai air mata kembali mengalir
Dan mengisi telaga kering di dasar hati

Sekali lagi tampar saja wajah iman ini Tuhan...!
Agar tak lagi terbata mengeja sepertiga malam-Mu...


Jogja sore, Jam 04:54.

Thursday, September 14, 2006

Lelaki Kaku

Lelaki kaku
Yang berada jauh
Ku tahu cintamu menggebu
Meski bila bertemu
Tak pernah kau katakan rindu

Lelaki kaku
Yang memberikan seluruh waktu untukku
Ku tahu kau pernah tersedu
memikirkan ku dalam rindu

Lelaki kaku
Yang selalu ku rindu
Aku pun kaku
Tak pernah bisa berkata bahwa ku ingin memelukmu

Lelaki kaku
Pahlawanku
Dunia mengajarimu kaku
Namun tak kuasa menhapus kasih dan sayang dari hatimu

Lelaki kaku
Kapan lagi kita bertemu
untuk melerai semua kaku
Yang selama ini menghiasi rindu

Lelaki kaku
Yang selalu ku panggil : Ayah
Kali ini izinkan untuk ku katakan bahwa aku benar-benar rindu pada mu
Sungguh...

Jogja pagi, untuk Ayah dengan sepenuh rindu yang semoga tak lagi kaku.

Wednesday, August 30, 2006

Jiwa Putih

Jiwa putih..
Lama sudah tak jumpa
Entah kapan kan bersua
Besok atau lusa kah?.

Jiwa putih..
Rindu sudah diri
Ingin sekali bersua
'tuk menatapmu dengan cinta

Jiwa putih..
Cinta penuh kau curah
Pada diri yang selalu alpa
Lalu mengkin kan melupa

Jiwa putih...
Dalam kamus mu telah hilang kata lelah..
Yang ada hanya kata cinta
Dan memberi tak kenal payah

Jiwa putih..
Lelah mu belum terbayar
Bahkan tak mungkin di bayar..
Biar Tuhan mu saja yang mengganjar..

Jiwa putih yang berbalut raga renta..
Yang selalu kusapa Ibu..
Aku rindu....
Sungguh....

Jogja Pagi, Untukmu Ibu dengan sepenuh rinduku.

Thursday, August 03, 2006

Damai Yang Kosong

Bermuka dua
Hancurkan negeri itu
Berteriak lagi tentang kedamaian
Berjabat tangan sambil tersenyum lalu bersilat lidah lagi tentang kedamaian
Kedamaian yang kosong
Ditawarkannya pada pejabat negeri unta yang ompong.

Bermuka dua
Negeri kera di bela
Negeri sebelah bersimbah darah
Berteriak lagi tentang HAM
Basa-basi politik berlaku lalu menyanyi lagi lagu kedamaian
Kedamaian masih kosong
Tak sadar juga pejabat ompong bahwa mereka lagi-lagi berbohong

Bermuka dua
Luluh lantakkan negeri anbiya'
Sampai semua terkoyak
Tetapi teroris..! begitu mereka berteriak
Kedamaian lagi-lagi melompong
Di tangan orang-orang yang sombong

Bermuka dua
Cipatakan kedamian kosong
Dengan jiwa yang sombong
Bohongi pejabat ompong
Lalu berteriak lagi dengan segala omong kosong

Tak sadar kah wahai orang ompong?
Kalau mereka selalu berbohong
Masih tak sadarkah kau?
Bahwa mereka menawarkan damai yang kosong
Tegaslah...!!
Kalau kau tak bisa menggigit cukuplah dengan meludah
Agar dunia tahu kau masih punya izzah.


Jogja malam
Jam 22:23

Saturday, July 22, 2006

Becermin Aku..

Bercermin Aku...
Pada puing yang terserak
Adakah duka terbagi
Pada hati yang membesi

Bercermin Aku.....
Pada luka yang menganga
Adakah iba tersisa
Pada hati yang membaja

Bercermin Aku....
Pada bocah bersimbah darah
Adakah luka terasa
Pada hati yang tak peka

Bercermin Aku...
Pada jasad tak bernyawa
Adakah haru menghiasi
Pada hati yang hampir mati

Wahai hati...!!
Kapan kau kembali..?
Atau...
Kau benar-benar telah mati...


Jogja, 19 Juli 2006
Jam 23:23

Wednesday, July 05, 2006

Selamat Hari Lahir..

Selamat hari lahir raga.
Dewasa sudah engkau
Dengan usia yang tak lagi remaja
Banyak sudah yang kau lakukan

Maafkan wahai mata..
Bila ada tatap yang membuatmu tersiksa kelak
Namun bersaksilah pada Tuhan-mu wahai mata..
Bahwa aku selalu berusaha menjaga tatapmu

Maafkan wahai lisan..
Bila ada ucap yang membuatmu kelu kelak
Namun bersaksilah dihadapan Robb-mu wahai lisan
Bahwa aku selalu berusaha memellihara ucap-mu..

Maafkan wahai tangan..
Bila adalah laku yang membuatmu hina kelak
Namun bersaksilah pada pencipta-mu wahai tangan
Bahwa aku selalu berusaha menjaga tingkahmu

Maafkan wahai kaki..
Bila ada langkah yang membuatmu lara kelak
Namun bersaksilah di hadapan pengatur alam wahai kaki..
Bahwa aku selalu berusaha menjaga langkah-mu

Maafkan wahai telinga...
Bila ada dengar yang membuatmu duka kelak
Namun bersaksilah di hadapan penguasa semesta wahai telinga
Bahwa aku selalu berusaha menjaga dengar-mu

Selamat hari lahir jiwa..
Lama sudah kau bersemayam dalam raga
Semoga gelisah tak lagi menghampirimu kini
Semoga gundah tak lagi bersahabat

Maafkan wahai jiwa..
Bila tenang lama tak hinggap
Karena tingkah jasad yang tak tanggap
Namun bersaksilah wahai jiwa..
Bahwa aku adalah: orang yang berusaha membersihkan diri..

Maafkan wahai jiwa…
Bila tingkah raga membuatmu sesak
Karena dosa yang kian memuncak
Namun bersaksilah wahai jiwa..
Bahwa aku adalah: orang yang mencintai kesucian..

Selamat hari lahir raga dan jiwa…
23 tahun sudah kalian menyatu
Semoga selamat mengahmpiri kelak
Agar surga menjadi tempat yang layak..!

NB: Sebuah persembahan pada jiwa dan raga yang menyatu dalam 'Aku'
Semoga dengan bertambahnya usia.
Bertambah pula berkah…!!
05 Juli 1983-05 Juli 2006.

Tuesday, July 04, 2006

Tunduk Pandang (Sebuah Puisi)

Mata Menyapa dosa
Menikmati tabu
Berhias warna durjana
Yang selalu menggoda

Ingkari Jiwa yang meronta
dengan lelah yang betambah
Taati raga yang dahaga
dengan suka tak bermuara

Kapankah Pandang tertunduk..?!
Agar Hati kembali khusyu'..